Candi Borobudur Dulu dan Sekarang

Pertama kali ke Candi Borobudur tatkala acara perpisahan SMPN 1 Pungging Mojokerto pada tahun 1993. Entah bulan apa hanya itu ingatan yang tersirat di benakku. Ternyata sudah 24 tahun yang lalu, lama benar yach! Akhirnya pasca lebaran 1438H atau tahun ini 2017 punya kesempatan untuk berwisata ke Candi Borobudur yang terkenal dan menjadi legendaris di dunia sebagai warisan peninggalan purbakala Indonesia. Meskipun ada kontrovesi mengenai tujuh keajaiban dunia pada 07-07-2007 yang dianggap juga sebagai tanggal keramat di mana Candi Borobudur tidak lagi tercantum dalam daftar tersebut.

Namun, bagi mayoritas warga Indonesia, masuk atau tidak ke dalam tujuh keajaiban dunia bukanlah persoalan utama. Candi Borobudur tetap ajaib di hati pengunjungnya dan tetap ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kemegahan dan kemasyhurannya menjadi daya tarik tersendiri untuk berkunjung bersama keluarga, sanak famili ataupun rombongan sekolah/dinas/instansi dari berbagai Indonesia.

Di tahun 1993, tentunya saya masih imut karena masih belia dengan tubuh mungil. Saya pun turut serta dalam acara perpisahan bersama rombongan sekolah SMPN 1 Pungging Mojokerto berwisata ke Candi Borobudur yang monumental itu. Dulu, yang penting bisa jalan - jalan rombongan pun sudah gembira, bayar tiket masuk pun bukan fokus kami lagi. Takjub dan terkagum - kagun dengan arsitektur Borobudur waktu itu. Meskipun di Jawa Timur khususnya Kabupaten Mojokerto sendiri yang pernah menjadi pusat kemegahan Kerajaan Majapahit dan terdapat beberapa peninggalan bersejarah seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Berahu dan situs - situs purbakala di sekitar Trowulan tapi kemegahan Candi Borobudur sebagai sesuatu yang berbeda.

Kini, setelah lebaran atau Idul Fitri 1438H kami sekeluarga juga berkunjung ke Candi Borobudur. Selain berwisata, mengenalkan warisan peninggalan purbakala ke anak - anak sebagai generasi penerus juga merupakan hal yang penting. Pertanyaan pun sering kali dilontarkan anakku yang masih di sekolah dasar. Kalau tidak bisa menjawab dengan pasti dan benar, pastinya suruh buka google dan baca wikipedia saja. Meskipun fisik agak kelelahan karena menempuh perjalanan panjang Bandung - Magelang, akhirnya sampai juga ke Desa Borobudur di mana candi ini berdiri dengan megah. Tiket masuk untuk dewasa yaitu Rp 40.000 dan anak - anak sedikit lupa nih entah Rp 25.000 atau Rp 20.000.

Sekarang, dengan tubuh yang melar ke samping menjadi beban tersendiri tatkala menaiki tangga candi apalagi belum tidur sama sekali. Sewaktu sampai di tingkat paling atas serasa linglung karena kurang istirahat. Satpam - satpam yang bertugas pun banyak berkeliaran menjaga dan memberikan himbauan ke pengunjung agar tidak menaiki stupa atau berselfie ria yang melampaui batas tanpa memperhatikan papan peringatan yang terpampang di situ. Bahkan peluit atau sempritan pun terdengar sebagai tanda peringatan. Saya sekeluarga pun sempat terkena teguran karena duduk di stupa yang rentan retak karena tingkah laku pengunjung yang tidak wajar seperti saya. Mohon maaf sedalam - dalamnya karena memang tidak memperhatikan dengan seksama. Ternyata, satpam - satpam itu sangat tepat di tempatkan di atas dan berkeliling mengawasi pengunjung.

Keluarga pun gembira dan bahagia semua bisa melihat langsung kemegahan Candi Borobudur. Perjalanan menuju lokasi parkir terasa sangat jauh berkilo - kilo meter rasanya, apalagi dengan kelelahan yang menyelimuti tubuh ini serta harus menggendong si bungsu yang rewel juga. Komplit juga pengorbanan ini. Akhirnya kami pun terbujuk rayuan penjual yang manis, "ayo mas nasi pecelnya cuma tujuh ribuan, monggo pinarak (silahkan mampir)". Kalau saya bukan rayuannya tapi karena saya perlu kopi hitam yang hangat/panas. Tips dari saya jangan sesekali minum minuman dingin jenis apapun, entah itu es teh, es jeruk, minuman botol dingin dan sejenisnya. Segarnya hanya sesaat dan akan menguras energimu saat berkendara/menyetir. Meskipun tenggorakan ini pengen sekali mencoba es dawet hitam khas Banjarnegara tapi niat itu saya batalin mengingat perjalanan masih jauh, Magelang - Mojokerto.

Sebelum masuk ke area parkir kendaraan, kami sempatkan terlebih dahulu membeli kaos untuk anak - anak, salak pondoh, dan oleh - oleh lainnya. Rupa - rupanya bukan saya saja yang kelelahan. Di area parkir ada ambulan siap siaga mengangkut pasien. Ternyata ada orang lanjut usia yang kemungkinan terkena serangan jantung, semoga beliau segera pulih dan baik - baik saja. Nah, jika mengajak sanak famili yang lanjut usia dan menempuh perjalanan jauh harus diperhatikan kondisinya juga karena luas area Candi Borobudur ini akan menguras tenaga, apalagi beberapa tangga naik sangat curam belum lagi terik panasnya matahari, jangan lupa bawa penutup kepala atau topi.